Datangnya dan Perginya

Cerpen oleh A. A. Navis

Ketika surat pertama Masri datang, melonjaklah keinginan hendak menemuinya di tahun yang lalu. Surat itu diciumnya berulang-ulang dan disimpannya di antara lembaran Quran. Setiap hari ia membaca Quran itu, setiap itu pula ia menciumnya. Dan sebuah kalimat yang disenanginya selalu saja mengikat matanya. Meski kalimat itu sudah lengket dalam ingatan masih juga dibacanya lagi.

“Datanglah, Ayah. Hati kami rasa terbakar karena rindu. Tidakkah Ayah ingin berjumpa dengan Arni, menantu Ayah? Dan dengan kedua cucu Ayah, Masra dan Irma?”

“Ya, tentu, Anakku. Tentu. Kenapa tidak. Aku sudah tua. Sebelum aku mati, aku mesti bertemu dengan kau semua,” kata orang tua itu dalam hati. Lalu diraba-raba dadanya sebelah kanan. Mencari-cari sesuatu di dalam saku-dalam pada jasnya. Dan kemudian tangannya itu hilang di balik lipatan jas. Sebentar saja. Keluar lagi bersama selembar amplop yang tepinya telah lusuh. Dibukanya tutup amplop itu dan dari dalam dikeluarkannya sebuah foto sebesar poskar. Dan matanya menatap bulat. Serta di bibirnya yang mencekung ke dalam tergores senyum kepuasan.

“Pakai kumis kau sekarang, Masri. Sudah berubah benar. Berbahagia kau dengan Arni, ya? Sudah dua anakmu sekarang Ayah juga turut berbahagia bersamamu, Nak. Selamanya ayahmu merasa bahagia melihat rumah tangga yang berbahagia. Apalagi engkau, Anakku.” Lalu poskar itu dimasukkannya kembali ke dalam amplopnya. Baru setengah, ia keluarkan lagi. Dibawanya ke bibirnya. Tak sampai. Ia ingat ada orang-orang di sekelilingnya. Dan poskar itu dimasukkannya lagi ke dalam amplop. Disimpannya kembali ke dalam saku jasnya. Ia bersandar selelanya. Dan kenangannya melayang ke masa yang lalu.

Selagi Masri berumur tiga tahun, istrinya yang dicintai itu meninggal. Waktu itu ia masih muda. Dan hatinya patah sudah. Dan ia merasa-rasakan, bahwa bahagia tak mungkin lagi datang padanya. Tapi kesunyian menerpanya selalu. Sepi sekali. Itu tiada terderitakan. Dan datangnya pada malam di waktu matanya tak hendak terpicingkan. Datangnya mengoyak-ngoyak. Maka akhirnya ia kawin lagi.

Tapi malah perkawinan ini tambah merusakkan hatinya. Hatinya yang masih mengenang cinta kasih mendiang ibu Masri diobrak-abrik oleh kedatangan perempuan ini. Ia ingin segalanya tiada berubah. Susunan rumahnya, aturan makannya, ia mau seperti yang dilakukan oleh ibu Masri. Tapi istrinya yang baru ini tiada rela suaminya tenggelam dalam suasana lama. Dan mereka tak berbahagia. Pertengkaran sering terjadi sampai mereka bercerai. Meski si istri sedang mengandung.

Lama kemudian ia kawin lagi. Tapi bercerai pula akhirnya. Kawin dan cerai lagi. Dan terasalah olehnya bahwa rumah tangga tak mungkin memberikan kesenangan lagi baginya. Lalu kesepian hatinya diisinya dengan perempuan yang takkan mengikatnya dengan syarat-syarat kawin.

” Ah, ibu Masri cuma satu. Cuma satu perempuan seperti dia. Dia baik. Baik sekali. Semua orang suka padanya. Semua orang. Dan dia pandai. Pandai dalam segala hal. Tapi, yah, Tuhan terlalu cepat mengambil tiap-tiap yang dikasihi seseorang. Ah, aku tak mengerti, kenapa semua orang yang berbudi baik, terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. Aku tak mengerti, kenapa mesti begitu. Ataukah dunia ini hanya boleh ditempati orang-orang yang tak baik saja? Ah, maka itu dunia ini tak mungkin jadi surga gerangan?” ia mengomentari lamunannya. Dan kepalanya digeleng-gelengkannya. Dan matanya berlinang puncak kepiluannya. Diangkatnya kaca matanya, lalu dipijit-pijitnya jangat di bawah biji matanya, menahan linangan jangan sampai jatuh. Dipasangnya kembali kaca matanya. Dan ia bersandar lagi pada sandaran tempat duduknya.

Kereta api yang ditumpanginya masih melaju kencang. Orang-orang sekitarnya sudah habis mengantuk. Kepalanya mengangguk-angguk bagai kepala boneka bergoyang. Bahkan ada yang pulas sama sekali, sehingga air ludahnya meleleh seperti lendir dari sudut bibirnya. Dan ada yang terangguk-angguk dan ketika kepalanya seperti akan jatuh ke pangkuannya, ia terbangun lagi. Namun mata orang tua itu masih nyalang juga. Dilemparkan pandangannya keluar jendela. Alam di luar menghijau dan disungkup oleh awan yang memutih di langit. Di kejauhan burung elang terbang berbegar. Lalu semuanya jadi memudar. Dipudari oleh kenangannya kepada Masri, anaknya.

Pengisian kehampaan dengan dambaan perempuan di sepanjang malam itu, menjadikannya hanyut berlarut-larut. Merusakkan hidupnya sendiri. Hingga Masri yang terdidik kasih sayangnya, menjadi disiksa oleh olok-olok kawan-kawannya di sekolah. Namun si anak tetap tidak percaya bahwa kesucian ayahnya telah rusak. Si anak ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri: benarkah ayahnya seperti yang dikatakan teman-temannya. Dan si anak mengintip. Mengintip kebahagiaan ayahnya dalam rangkulan perempuan jalang itu. Ah, betapalah hancurnya hati si anak. Mungkin ingin ia membutakan matanya, agar segala yang di depan matanya itu tiada terlihat. Dan ia temui ayahnya dengan dendam tiada terbada. Kehadiran Masri menjadi olok-olok perempuan yang dibayarnya. Dan ia merasa terhina dan marah sekali. Tapi si anaklah yang jadi sasaran marahnya. Ditamparnya sekuasa kuatnya. Namun si anak diam dalam kesakitan. Dibiarkannya ayahnya berbuat sesuka hatinya.

“Kurang ajar kau. Bikin malu. Ayo, pergi. Kau bukan anakku lagi!”

“Memang aku bukan anak ayah yang begini. Aku memang mau pergi!” si anak membangkang.

“Kau kurang ajar!”

“Kalau aku kurang ajar, bukan salahku. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini. Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir, Ayah lagi yang merusaknya! “

Si ayah betul-betul hilang kesabarannya. Jika tadi perempuan jalang yang dibayarnya sudah pandai menertawakannya, maka sekarang anaknya sendiri yang menghinanya. Ia hendak memukul lagi. Tapi si anak cepat pergi tak kembali lagi ke rumah ayahnya.

Orang tua itu merasa napasnya tertahan. Jantungnya kencang berdebar. Dan ia sadar lagi dari lamunannya. Tepekur ia dalam kesadaran pikirannya. Yang waras. “Memang terlalu,” katanya dalam hati. “Perkataan Masri melukai hatiku sungguh-sungguh. Tentu Masri takkan begitu kalau bukan aku ayahnya. Tentu anak orang lain takkan berkata begitu kepada ayahnya. Tentu aku ayah yang salah. Jahat. Kalau aku pikir-pikir kini, Masri, aku merasa kautelanjangi bila aku bertemu kau nanti. Aku memang ayah yang tak baik. Tapi, Anakku, perkataanmu dulu itu benar, Anakku. Perkataanmu dulu menimbulkan kesadaranku kemudian. Malam-malam ketika aku berbaring di tempat tidur di rumah kita, lambat laun aku insaf. Akulah yang salah. Akulah ayah yang celaka. Tapi kau sudah pergi, Anakku. Kepergianmu yang tak kembali lagi itu, menghancurkan hatiku. Aku ingin kau terus di sisiku, karena kau anakku satu-satunya. Karena kau duniaku, tempat aku berpegang lagi. Tapi kau tak ada lagi. Ingin aku maafmu, Nak. Ingin sekali ketika itu. Tapi kau tak kunjung datang.

Kemudian aku tobat, Anakku. Aku lemparkan kehidupan duniawi. Aku jual segala harta benda kita. Aku wakafkan. Dan aku pergi ke dusun jauh. Aku tinggal di mesjid sana. Aku serahkan diriku kepada Allah. Bertahun-tahun lamanya. Dan di samping itu kuajak manusia di sekitarku hidup dalam rukun damai. Semuanya, semua rumah tangga di dusun itu, ikut aku mendamaikannya, membahagiakannya, kalau ada terjadi cekcok. Alangkah bahagianya hatiku, Nak, kalau aku melihat kebahagiaan rumah tangga mereka. Karena aku sendiri mengerti apa arti kebahagiaan rumah tangga itu.

Tapi, Masri, ketika aku menerima suratmu setahun yang lalu, kuakui aku bimbang mulanya menerima ajakkanmu. Aku merasa ditelanjangi. Anak yang kutampar, anak yang kuusir dulunya, anak itu yang mengajak aku datang ke rumahnya. Aku malu. Malu sekali, Masri. Dan aku tak mau datang. Enggan karena malu. Tapi tahu kau, suratmu itu selalu kucium?

Dan kemudian datang suratmu lagi. Juga tak kubalas. Dan suratmu yang ketiga beserta wesel uang itu, tidak mengguncangkan hatiku dari pendirianku semula. Tapi, Masri, uang itu aku ambil juga ke kantor pos akhirnya. Karena terpaksa. Karena ada orang lain yang hendak kutolong dengan uang kirimanmu itu. Kalau aku sudah mengambil uangmu, Anakku, aku terpaksa juga mengunjungimu. Terpaksa bukan berarti aku tak mau, tapi karena aku sangat malu bertemu denganmu.

Tapi sekali aku ingat, aku sudah tua. Umurku takkan lama lagi. Dan kalau aku mati, aku mau tak semiang dosa pun lengket di badanku. Dosaku yang terbesar akan hapus oleh maafmu, Anakku. Kini aku datang menyerahkan diriku padamu, sebagai ayah yang kalah. Tahu kau, Anakku, oleh surat-suratmu yang tak bosan-bosannya datangnya itu, sampai empat kali, dan tak pernah kubalas, merobohkan sifat-sifatku yang buruk. Sifat-sifatku yang tinggi hati, karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. Aku insaf sekarang, kesombongan itulah yang menghancurkan kehidupanku selama ini …”

“Ada apa, Pak? Kenapa Bapak menangis?” sebuah suara masuk ke telinga orang tua itu. Tersentak ia dari lamunannya. Dan dirasanya lelehan air di atas ujung mulutnya. Disekanya cepat. Lalu dicobanya tersenyum manis kepada si penegur. Kemudian dipalingkan matanya ke luar jendela. Dilihatnya alam hijau membiru disela oleh rumah-rumah yang berkelompok tiada teratur. Kian lama kian ramai. Tapi kereta api masih laju juga jalannya. Kedengaran desisan lok kejar-berkejaran. Dan kota yang dituju hampir sampai kini. Ketika kereta bertambah perlahan jalannya, bertambah kencanglah jantungnya memukul. Maka yakinlah ia, ia akan berjumpa dengan anaknya. Dan tentu nanti maafan anaknya akan diperolehnya sepenuh ikhlas. Tentu. Terasalah betapa damainya dunia ini olehnya. Dan kalau ia mati kelak, matinya tanpa membawa dosa. Dalam kedamaian itu, kereta pun berhenti. Dan dalam liputan kedamaian itu pula ia meningkat anak tangga rumah anaknya. Tidaklah ia merasa capek sedikit pun oleh guncangan kereta api hampir sepenuh hari itu. Tapi napasnya menyesak juga oleh pukulan jantungnya yang tambah berdebar, seperti debar ketika mula pertama ia memasuki ambang pintu bilik istrinya. Namun ia merasa dirinya segar. Dan ia regup hawa di sekitar rumah anaknya sedalam-dalamnya, agar ia lebih merasa bersatu dengan kehidupan sekitar yang indah itu. Dihadapkan mukanya ke barat, ke utara, ke timur, dan ke selatan. Sedangkan pada garis bibirnya tergores senyum bahagia.

Ketika ia membalikkan badannya menghadap pintu lagi, alangkah terkejutnya orang tua itu. Kedamaian alam yang memagutnya tadi, serta-merta terlempar jauh, terpelanting remuk. Seorang perempuan kurus hampir serupa mayat, berkecak tegak di ambang pintu. Menatap dengan tegar. Sedangkan laki-laki tua itu terpukau dalam kekecutan dan gigilan. Ia tak mengerti kenapa perempuan itu harus ada di situ. Jalan pikirannya begitu lamban. Maka ia mengajak alamnya berdamai kembali dengan serba sangka yang segala baik atas kehadiran perempuan itu di situ.

“Mengapa kau datang juga?” tanya perempuan itu ketus. Dan keketusan pertanyaan itu demikian kesat masuk ke telinga laki-laki itu. Maka hatinya tersinggung. Rasa kesombongan yang telah lama mengendap jauh di lubuk hatinya, menjolak lagi dengan panasnya. Dan dengan pandangan mata yang menyala berang, ia berkata. “Aku kemari ke rumah anakku. Karena diminta datang.” Tapi ucapannya itu hilang di ujung bibirnya yang gemetar. Tak bersuara mencapai sasarannya.

“Kalau datangmu hendak membawa keonaran, pergilah kini-kini,” perempuan itu menegas lagi.

“Rumah ini, rumah anakku. Aku datang karena dipanggil,” laki-laki tua itu berkata lagi dengan berangnya.

Tapi perempuan itu tidak mendengar apa-apa dari mulut laki-laki yang tegak bagai patung di ambang pintu itu. Dan perempuan itu berkata lagi. “Tapi kalau datangmu untuk kebaikan, masuklah.”

Dan laki-laki tua itu tak hendak bertengkar di tangga rumah anaknya. Ia masuk membawa hatinya yang ragu dan bertanya-tanya. Tapi keragu-raguan itu segera menyingkir jauh ketika ia memandang keliling ruangan rumah itu. Begitu sederhana, tapi semuanya teratur rapi. Bersih. Dan yang terpenting begitu serasinya. Maka tahulah ia bahwa anaknya, Masri, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan bersama istrinya. Ia pun ikut merasa bahagia. Dan lupalah ia sejenak kepada perempuan yang memandangnya nanap dan dengan hatinya yang kecut.

“Alangkah bahagianya Masri,” ia berkata seolah kepada dirinya sendiri. “Tentu Arni, istri yang cocok.”

“Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain,” kata perempuan itu mencetus.

Dan laki-laki itu terantuk lagi pada kehadiran perempuan itu. Maka tahulah ia bahwa ucapan perempuan itu bermaksud menempelak dirinya. Juga merupakan suatu pukulan untuk mengenang kembali kehidupannya yang lalu. Hatinya tersinggung. Tapi ia tak mampu membangkitkan kesombongan yang tadinya menjolak-jolak. Ia kini jadi lemah dan sempoyongan oleh pukulan itu. Digapainya sebuah kursi. Dalam sempoyongan itu, berbalik-balik sejarah kehidupannya yang lama. Semua pada bagian yang hitam dan pahit-pahit yang paling ia kenang.

“Maafkanlah aku, Iyah. Aku memang orang yang tak baik. Umurku yang setua ini, hampir mati malahan, menginginkan semuanya dalam kedamaian dan kebaikan. Hendaknya jika aku mati, matiku dalam kebersihan dosa-dosa yang telah aku lakukan,” katanya lama kemudian dengan suara yang parau serta pengucapannya yang bergetar.

“Cerita maaf, memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang. Tapi bagiku, orang yang selamanya dalam kesulitan ini, cerita maaf haruslah diperhitungkan dulu. Perhitungan antara aku dan kau,” kata perempuan itu tanpa kehilangan gayanya yang ketus.

“Iyah,” kata laki-laki itu lagi dengan gaya yang meminta belas kasihan. “Ketika lama sesudah aku menceraikan kau dulu, aku telah menyesal.” Namun tak ada kata-kata keluar dari mulutnya selain hanya menyebut nama perempuan itu.

“Sekarang kau datang kemari, hanya untuk merusak.”

“Kau tahu aku akan datang?”

“Tahu. Tapi aku selalu berusaha supaya kau tak jadi datang. Tapi aku tak bisa mencegahmu datang.”

“Mengapa kau mencegahku?”

“Kedatanganmu merusak.”

“Tapi aku sudah tobat. Aku sudah lama menyediakan hidupku untuk kebaikan. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup.”

“Tapi kedatanganmu kemari tetap membawa dosa.”

“Membawa dosa? Kenapa dosa kubawa? Bukankah aku diminta datang kemari untuk…,” ia terhenti sejenak. Tapi kemudian disambungnya lagi. “Maksudku aku datang untuk minta maaf anakku. Demi kebahagiaan anakku dengan istrinya.”

“Istri Masri anakku. Juga anakmu,” kata perempuan ketus.

“Iyah,” kata laki-laki itu terpekik dalam suaranya yang parau. Dan tiba-tiba tubuhnya gemetar, kemudian layu terkulai ia di sandaran kursi. Tak dapat ia berkata sepatah pun lagi. Pikiran dan perasaannya menampak bayangan kacau yang bertelau-telau tiada berbentuk apapun. Memenuhi segala ruang. Lama sekali begitu. Dan ketika sadar pada dirinya lagi, ia tak berani menyalangkan matanya untuk melihat kenyataan di sekitarnya. Ia mau mencoba berpikir dan menimbang-nimbang segala yang terjadi dan teralami oleh dirinya sendiri.

“Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung, sejak itu sampai sekarang, aku sediakan diriku dipukuli kutukan. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini, asal mereka tetap bahagia.” Suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang tersandar nanar di kursi.

“Mengapa tak kaukatakan?”

“Mengapa aku katakan?”

Dan laki-laki tua itu membuka matanya dan bertanya lagi. “Bukankah itu dosa?”

“Benar. Bagi siapa yang tahu.”

“Karena itu kaubiarkan mereka tak tahu?” Ia mulai membangkitkan dirinya lagi. “Walau bagaimanapun mereka harus tahu. Harus. Mesti. Wajib.” Lalu sekujur tubuhnya melemah lagi. Sejenak kemudian dengan suaranya yang mendesis parau ia melanjutkan kata-katanya. “Ini semua dosa, Iyah. Dosa besar. Dosa bagi kita. Dosa bagiku, dosa bagi kau. Juga dosa bagi mereka.”

Tak suatu pun terdengar. Sepi dan sunyi. Perempuan yang kurus dengan kulitnya yang bagai telah mersik itu, masih berdiri tegar di tempatnya. Sedangkan laki-laki masih terkapat di sandaran kursi.

“Aku harus memberitahu mereka. Setelah itu mereka harus bercerai. Ini mesti. Kalau selama ini aku telah mendapat keridaan Tuhan, kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku? Maka itu mesti aku katakan kepada mereka,” kata laki-laki tua itu sambil memicingkan matanya terus, seolah enggan melihat segala kenyataan yang ada.

Ia dengar lagi Iyah berkata. Tapi nadanya mengejek. “Oh, alangkah tamaknya kau. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu. Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. Hanya karena kau takut memikul hukuman atas dosa-dosamu seorang.”

“Iyah,” katanya dengan suaranya yang lesu.

“Biarkan mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya,” kata perempuan itu menegaskan.

“Aku tak sanggup.”

“Tak sanggup?”

” Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan.”

“Hmm. Sekarang pandai kau mengatakan itu. Kenapa tidak dari dulu-dulu?”

Hatinya luka lagi. Luka oleh ejekan Iyah. Tapi ia tahu, ia yang salah. Maka ia diam saja. Tapi kemudian ketika ia sadar pada amalan dan ketaatannya pada Tuhan, ia berkata dengan suara yang tegas dan dengan nada yang pasti. “Iyah, walaupun apa katamu, walaupun bagaimana benarnya kebenaran yang kaukatakan, ada lagi kebenaran yang mesti kita junjung tinggi. Kebenaran Tuhan. Manusia harus siap mengorbankan dirinya untuk menjunjung tinggi aturan-Nya.”

“Hm. Sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Kenapa? Karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. Karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Kaupikir, dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kaulakukan sendiri?”

“Walau bagaimana, mesti kukatakan kepada mereka bahwa mereka bersaudara kandung.”

“Demi menjunjung perintah Tuhan?”

“Demi menjunjung perintah Tuhan yang kusembah siang malam.”

“Meski akan merobohkan kebahagiaan hidup manusia lain.”

“Itu tak soal. Karena manusia itu berakal, dan harus beriman. “

“Omong kosong. Akal kau, iman kau, hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu. “

“Kau murtad, Iyah!”

“Lebih baik dari orang sepengecut kau!”

Dan si laki-laki merasa tak perlu membantah lagi. Ia telah mengambil putusan. Putusan yang sesuai dengan kepercayaan yang ia junjung bertahun-tahun lamanya.

Iyah juga merasa, bahwa lawannya tak hendak mundur dari pendiriannya. Tapi ia tahu juga, bahwa kepercayaan manusia sukar dilenyapkan dengan perdebatan dan dengan dalil-dalil apapun. Dia kenal manusia seperti bekas suaminya itu, bahkan manusia lainnya, yang akan kalah oleh tusukan yang melalui perasaan kemanusiaannya. Maka ia berkata lagi dengan nada yang merendah sedih, dan seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri. Katanya, “Sebentar lagi anak-anakmu akan datang. Kau lihatlah nanti, betapa bahagianya mereka. Mereka sudah punya anak dua. Malah hampir tiga. Kalau mereka kauberi tahu, bahwa mereka bersaudara kandung, mereka pastilah akan bercerai. Kalau mereka mengerti dan beriman seperti kau, boleh saja. Tapi kalau mereka tidak beriman, hancurlah hati kemudiannya. Hancurlah kehidupannya, kehidupan yang dahulu sudah pemah kaurusakkan. Mereka bercerai. Dan anak-anaknya akan jadi apa? Tiga orang bukan sedikit. Betapalah dalam tusukan ejekan itu akan menyakitkan hati. Baiknya kalau mereka beriman seperti kau. Tapi kalau tidak?

Iyah berbicara lama sekali, pelan-pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu. Dan selama itu pula tanpa disadari laki-laki itu, bangunan pendiriannya telah dikorek-korek. ” Aku tahu,” kata Iyah seterusnya. “Bahwa adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Tapi aku dari semula sudah salah. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. Dalam hal ini mereka tidak salah. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu, aku ditindih perasaan berdosa sepanjang waktu. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang. Kurangkah imanku, kalau dosaku adalah dosaku. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain, apalagi kepada anak-anakku? Dosaku takkan kupupus kalau karenanya mereka akan hancur hati dan kehidupannya. Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. Aku merasakan itu. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu.”

Tapi suara Iyah tak tetap lagi. Sudah serak dan terputus-putus. Dia lalu menangis tersedu-sedu. Dan ketika itulah kekukuhan bangunan pendirian laki-laki tua itu hancur berderai-derai. Dia kalah sudah. Kalah oleh perasaan kemanusiaannya yang bertentangan dengan keimanan kepada Tuhannya. Diambilnya bungkusan kainnya, lalu ia melangkah ke pintu. Dan sebelum pintu ditutupnya, berkatalah ia dengan sayu, “Iyah, sebaiknya aku tak kemari. Bahkan kalau hendak memikul dosa-dosalah hidup kita ini, sebaiknya juga kita manusia ini tak usah ada. Tapi manusia tetap ada dan Tuhan pun ada. Dosa kepada Tuhan akan dapat ampunan-Nya kalau kita tobat, Iyah, karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Tapi kalau dosa itu kepada manusia, sukarlah mendapat penyelesaiannya. Dan aku telah lama tidak berbuat dosa lagi bagi manusia, apalagi terhadap manusia yang terdiri dari darah dagingku sendiri. Aku pergi, Iyah. Dan jangan kaukatakan pada siapapun tentang kita, dan tentang apa yang kita lakukan ini. Kau tahu apa yang kita lakukan Iyah.”

Perempuan itu mengangguk. Lalu pintu itu tertutup lambat-lambat. Dan laki-laki itu melangkah dengan tenang ke muka, tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah. Dan Iyah tinggal dengan perasaan yang juga pergi dan menghilang jauh meninggalkan pintu yang telah tertutup karena menuruti bekas suaminya, ayah Masri dan juga ayah Arni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *